Drabble Series ; Introduce

untitled

Author :  Altrisesilver

Cast : Park Jaebum, Yoon Dujun of B2ST, Kim Jaejoong of JYJ

Lenght : Triple – Drabble

Genre : Romance, Family & Friendship

Rating : M

 

“Surat cinta dari siapa?”

Aku meletakkan sepucuk amplop surat berwarna merah jambu yang kutemukan di kamar Jaebum –kakakku, ke atas meja di hadapannya.

Dia yang sedang asyik memainkan gamenya hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan permainannya.

“Tidak tahu, kau baca saja, aku belum membacanya,” ujarnya acuh.

Aku yang penasaran meraih kembali benda tersebut dan membacanya. “Jung Eunji, kau mengenalnya?” kulemparkan kembali kertas beserta amplop tersebut ke atas meja.

Jaebum kali ini menghentikan permainannya kemudian menatapku dengan tatapan jahilnya. “Kau cemburu?”

Aku mendengus geli. Tidak mungkin seorang adik cemburu pada surat cinta milik kakaknya.

“Jangan tertawa, katakan saja.” Tubuhnya menghapus jarak diantara kami, tangannya lalu dilingkarkan dipinggangku seakan memaksaku untuk berada dipelukkannya. “Kau cemburu?” ia mengulangi pertanyaannya.

Lagi-lagi aku mendengus geli. “Kau kakak-ku, mana mungkin aku cemburu.”

Seketika raut wajah Jaebum berubah, dia menatapku dengan pandangan yang tak dapat ku mengerti. Aku salah bicara? Benakku.

Jaebum kemudian melonggarkan pelukannya padaku dan mengecup keningku beberapa detik. “Mau tidur?” ajaknya seraya berdiri dari sofa.

Aku mengangguk sekilas kemudian bangkit menyusulnya masuk ke dalam kamarnya. Kami sering melakukan hal ini sejak kami kecil, tidur bersama.

Kuletakkan kepalaku diatas dadanya ketika ia mulai menarik selimut diatas badan kami berdua. Dia mengelus rambutku pelan sebelum mencium puncak kepalaku dan memejamkan matanya.

Jaebum, seintim apapun hubungan kita. Kau tetap kakakku.

 **

Tsiiinggg

Pertengahan musim panas yang ramai.

Aku menghela nafas ringan seraya mengibaskan tanganku, mengusir panas yang semakin menyengat karena teriknya matahari. Kalau bukan karena seorang pria yang sedang patah hati mungkin aku tak rela kulitku terbakar sinar matahari seperti ini.

Aku masih mengibas-ngibaskan tanganku saat sebuah benda dingin menempel di pipiku, aku menoleh. Pria patah hati itu berdiri disampingku sambil menunjukkan senyum khasnya.

“Putus lagi?” Dia hanya tersenyum seraya memberikan botol minuman dingin yang tadi ditempelkannya kepadaku.

“Begitulah,” ujarnya yang kemudian duduk disampingku membuatku menggeser badanku.

“Aku jadi tidak yakin ada yang benar-benar mencintaiku.”

Aku hanya memandangnya. Kata-kata itu biasa keluar dari mulutnya jika ia sedang patah hati.

“Hey, Yoon Dujun, berhenti mengatakan hal pesimis seperti itu.”

“Kau tak akan mengerti.” Aku mencibir.

Hening diantara kami. Aku lelah menasehatinya, bayangkan saja setiap seminggu sekali berganti perempuan, Sebenarnya tipenya itu seperti apa?

“Jangan tinggalkan aku,” ucapnya kemudian.

Aku meliriknya. “Huh?”

“Jangan tinggalkan aku,” ucapnya lagi, kali ini dengan menggenggam tanganku.

Tatapan matanya yang begitu tulus membuatku mau tak mau menganggukkan kepalaku dan tersenyum. “Aku tak akan meninggalkanmu, Yoon Dujun.”

**

Namanya Kim Jaejoong.

Iya, pria yang tanpa sengaja terjebak bersamaku di sebuah café karena hujan deras diluar sana ini bernama Kim Jaejoong.

Berawal dari ketidak-sengajaanku menumpahkan segelas mocha-latte ke pangkuannya yang membuat kami berkenalan.

“Maaf, soal celanamu.” Aku sekali lagi meminta maaf, memastikan ia benar-benar tidak marah.

Jaejoong tersenyum, “Tak apa, lagipula aku bisa mencucinya di laundry.”

Aku menganggukkan kepalaku pelan sambil berusaha membalas senyumnya.

Rinai hujan tampak menipis, Jaejoong mengalihkan pandangannya ke jendela. “Hujan sepertinya sudah mulai reda, mau kuantar pulang?” tawarnya.

Aku menimang-nimang, bukannya menerima ajakan seseorang yang tak dikenal itu tidak diperbolehkan. Ah, tapi, aku kan sudah tahu namanya. Setidaknya dia tidak akan bohong soal namanya, ‘kan?

“Hey?” Suara beratnya membuyarkan lamunanku.

“Memangnya tidak merepotkan?” tanyaku bingung. Beberapa jam yang lalu aku menumpahkan minuman berwarna coklat ke pangkuannya dan sekarang ia malah mengantarkanku pulang. Ah, wanita macam apa aku ini.

Bukannya menjawab Jaejoong hanya terkekeh geli. Sambil berdiri, pria itu menggandeng tanganku dan berjalan keluar kedai menuju mobilnya.

“Maaf merepotkan,” ujarku dengan suara pelan saat ia menjalan mobil sport miliknya.

Jaejoong tersenyum, kali ini bukan senyum yang ia lemparkan saat di kedai. Tapi, senyum yang biasa kulihat di wajah Jaebum dan Dujun saat mereka berada diatasku.

“Ada harga yang harus kau bayar untuk mengganti biaya laundry celanaku, manis.”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s