Don’t Leave Me, My Angel

Aku mencoba memusatkan perhatianku pada laptopku. Namun berulang kali aku memusatkannya selalu saja ada yang melenceng.

Astaga apa yang sebenarnya sedang kupikirkan.

Kulirik jam di sudut layar laptopku. Pukul 5 sore dan aku masih terjebak di kantor dengan setumpuk pekerjaan. Apa-apaan ini!! Aku ingin pulang!

Aku berdecak pelan lalu bangkit menuju tempat minum. Berharap aku bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku setelah aku menyeduh teh hangat.

Aku kembali duduk di meja kerjaku lalu meraih ponselku yang sejak tadi pagi menganggur.

Tak ada telepon. Tumben, batinku. Biasanya hampir tiap jam malaikatku menghubungiku walau sekedar bertanya aku sedang apa. Jujur saja, walau bertemu setiap hari selama 5 tahun terakhir aku tetap merindukannya.

Aku menekan nomor malaikatku lalu menekan tombol dial.

Eonnie,” sapanya setelah dua kali sambungan telepon.

“Rin, kau sedang apa?” tanyaku.

Ada helaan nafas yg kudengar, terdengat berat. “Aku ingin pergi eonnie. Aku tidak ingin merepotkanmu terus,” ucapnya.

Aku membelalakkan mataku. Apa katanya? Pergi? Astaga makhluk ini.

“Tunggu dirumah sampai aku kembali! Awas kalau kau berani keluar sejarakpun dari pagar!” bentakku lalu menutup sambungan telepon. Kusambar kunci mobil dan jaketku kemudian bergegas pulang kerumah, kuhiraukan teriakan manager yang melihatku pergi sebelum waktunya.

Aku tidak peduli, yang terpenting sekarang aku harus mencegah malaikatku pergi.
Kulajukan mobilku kencang dan mengklakson apapun atu siapapun yang melintas didepanku. Aku tak peduli, sungguh. Lebih baik aku dimaki daripada harus kehilangan malaikatku.

Kuberhentikan mobilku didepan rumah lalu masuk kedalam rumah. Sepi dan gelap karena matahari sebentar lagi meredup.

“Rin,” panggilku seraya meraba dinding mencari saklar lampu.

Ctek!

Surprise!” Rin berteriak dihadapanku sesaat setelah lampu menyala. Kutatap rumahku yang penuh dengan hiasan warna-warni yang kuyakini adalah buatannya.

“Rin!” Pekikku keras lalu berlari mendekatinya. Kutarik tubuh mungil itu kedalam pelukan eratku.

“Ini tahun ke-5 kebersaman kita eonnie,” ucapnya dipelukanku.

“Jangan pergi,” sahutku lirih karena menahan tangisku.

“Aku tidak akan pergi eon,” jawabnya lemah lalu Kurasakan tangannya ikut memelukku.

“Berjanjilah jangan membuatku panik seperti ini lagi.”

Gadis itu mengganggukkan kepalanya.

“Aku menyayangimu Hee Rin,” ucapku lagi kali ini benar-benar dengan airmata yang mengalir dari sudut mataku.

Sungguh aku tak bisa membayangkan apa jadinya hidupku tanpa dirinya disampingku. Aku benar-benar membutuhkan dirinya. Aku tidak peduli apapun yang terjadi, dia harus berada di sampingku. Egois memang tapi memang itu yang aku rasakan.

“Aku juga menyayangimu eon,” jawabnya lalu mengeratkan pelukan kami berdua.

THE END

Iklan

Satu pemikiran pada “Don’t Leave Me, My Angel

  1. *guling2 di kasur* Kyaaaaaaaaaaaaa!! Eonniiiii >///<
    panas dan dingin menjadi satu!!

    Dari kemarin di kejutkan terus AAAAAAAAAAAAAAAAAA

    eonni, diri mu kaya pen buat aku mati perlahan-lahan u.u
    aku suka eonniiiiii!! ({})

    ada lanjutan nya ga? Kalo ada, aku tunggu!! ^^

    semoga itu taerin kabur dari kantor gak di pecat ya. Amin!! ._.v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s