My Girl. A Ghost?

Author : Choi Gynsuk

Title : My Girl. A Ghost?

Genre : Romance

Tags : Kim Ryeowook, Kim Jongwoon (Yesung), Lee Jieun

Rating : General

“Ryeowook-aah, jika aku meninggalkanmu nanti carilah wanita lain yang jauh lebih baik dariku” kata Jieun. Aku menatap kekasihku kebingungan “kau mau meninggalkanku? Tega sekali” ucapku dengan nada sedikit manja, Jieun hanya menatapku sambil terus tersenyum. Perlahan aku merasakan ia mulai menjauh dariku, aku coba menahan tangannya agar tidak pergi namun sesuatu yang besar sepertinya menariknya, ia menghilang. Aku kalut.

“JIEUN!!”

Aku terduduk diatas tempat tidur dengan nafas yang memburu. Kulihat sekelilingku dan baru menyadari kalau tadi hanyalah sebuah mimpi. Aku melirik jam dinding. Pukul 01.00 dini hari lalu haus merasuki kerongkonganku, aku langsung keluar kamar dan menuju dapur. Ada Yesung Hyung disana, aku rasa dia juga terbangun.

“Sedang apa Hyung?” tanyaku sambil membuka kulkas lalu meneguk gelas penuh air dingin. Ia menoleh “aku terbangun mendengar teriakkanmu” jawabnya. Aku termenung “Mianhe (maaf) Hyung, tadi aku bermimpi buruk” jelasku.

“Tentang Jieun?” tebaknya, aku mengangguk. Jujur saja, bukan hanya kali ini aku bermimpi buruk tentang kekasihku yang keturunan Indonesia-Korea itu sudah seminggu terakhir mimpi yang sama menghinggapiku, ia juga tidak memberiku sebuah kabar seminggu ini dan Yesung Hyung tau hal itu. “Apa dia belum menghubungimu?” tanya Yesung Hyung memecahkan lamunanku tentang Jieun, aku menggeleng lemah, pasrah.

Yesung Hyung menghampiriku lalu menepuk pundakku “hubungilah dia duluan, aku yakin dia sedang sibuk mengerjakan sesuatu untukmu” katanya lalu berlalu menuju kamarnya dan meninggalkanku yang sedang termenung.

**

Entah sudah berapa puluh kali aku menelpon Jieun tapi ponselnya tidak pernah aktif. Aku hampir mati dibuatnya, kemana perginya kekasihku ini. Ditengah keputus-asaan itu pintu rumahku diketuk seseorang. Aku berjalan menghampiri dan membukanya. Tebak siapa yang berdiri disana? Jieun!.

Aku bengong menatapnya yang tersenyum manis didepanku, masih tak menyangka dia ada dihadapanku sekarang padahal aku daritadi menelponnya. Belum sempat aku memarahinya dia memelukku dan membuatku mengurungkan niat untuk memarahinya, aku mengusap rambutnya namun aku merasakan tangannya sangat dingin.

“Diluar dingin, masuklah, kubuatkan coklat panas” kataku. Ia melepas pelukannya dan ikut masuk ke dapurku.

“kau kemana saja selama seminggu ini? Tidak memberiku kabar” omelku saat ia mulai meneguk minumannya. Dia tidak menjawab, aku memperhatikannya yang sedang mencari sesuatu di tasnya.

“Aku membuatkanmu ini” katanya sambil menyerahkan sweeter berwarna biru muda kepadaku. Aku mengambilnya “aku kan tidak sedang ulangtahun” kataku heran, ia hanya tersenyum. Entah kenapa aku merasa wajahnya sedikit  pucat kali ini “aku tau, aku hanya ingin membuatkanmu itu, memang tidak boleh?” tanyanya. Aku menggeleng lalu mencoba sweeternya. Sedikit aneh. Rajutannya sedikit belum selesai.

“Kau suka?” tanya Jieun. Aku mengangguk lalu mencium keningnya “Gomawo jagiya” ucapku, dia tersenyum lalu mengecup bibirku.Aku merasa bibirnya dingin “kau kedinginan ya?” tanyaku sedikit cemas “aniyo” jawabnya “tapi sejak tadi aku merasa kulitmu begitu dingin” kataku lagi. Dia menggeleng lalu meneguk coklat panasnya lagi. Aku mencoba untuk tidak bertanya lagi.

Pintu rumah terbuka. Yesung Hyung baru kembali dari tempat kerjanya dan terkejut melihat Jieun “Hyung sudah pulang” kataku sambil menghampirinya, dia melihatku heran lalu menatap Jieun aneh. Jieun tersenyum lalu membungkuk member salam “Annyeong Oppa” sapanya, Yesung Hyung tidak menjawab ia kemudian berlalu menuju kamarnya. Aku bingung melihat sikapnya itu, tidak seperti biasanya ia bersikap begitu kepada Jieun.

“Ryeowook-aah boleh aku menginap dirumahmu? Kau kan tau di Korea aku tidak punya kerabat” kata Jieun memecahkan keheningan, aku mengangguk “menginaplah seperti biasanya” jawabku.

**

Sudah 2 hari Jieun menginap dirumahku, sikapnya sedikit berubah. Ia jadi sedikit kaku padahal hubunganku dengannya sudah menginjak 3 tahun. Sikap Yesung Hyung juga aneh, biasanya dia yang paling ramah terhadap Jieun perlahan menjauh dari Jieun.

Aku bertanya apa yang terjadi namun Yesung Hyung selalu berkata tidak kenapa-kenapa, begitu juga Jieun. Akhirnya aku coba lupakan hal tersebut dan menjalaninya seperti biasa.

Hari ini Jieun mengajakku berjalan-jalan di taman, katanya ia ingin menghirup udara segar. Sepanjang hari aku memegang tangannya dan aku masih merasakan dingin yang sama padahal hari ini cuaca sangat hangat. Aku memperhatikan wajahnya yang sedikit pucat, sempat ku tanyakan apa ia sakit namun ia hanya menggeleng.

Saat sedang asik berjalan-jalan ponselku berbunyi “pulanglah, ada yang ingin aku bicarakan” kata Yesung Hyung diujung telepon dengan nada serius.

**

“Oemma (ibu) Jieun memintaku untuk menyuruh Jieun pulang ke Indonesia” kata Yesung Hyung. Aku terkejut “dia kabur dari rumah” tambah Yesung Hyung lagi, aku menatap Jieun yang sedang menunduk “kenapa kau kabur?” tanyaku.

“Mianhe, oemma melarangku untuk menemuimu lagi namun aku sangat mencintaimu Ryeowook-aah” jawabnya dengan suara lirih, dia mencoba menahan airmatanya lalu aku menatap Yesung Hyung dan member tanda baginya untuk meninggalkanku berdua dengan Jieun. Dia mengerti dan keluar dari rumah.

Setelah Yesung Hyung keluar, tangis Jieun pecah. Aku mendekapnya “sudahlah jagiya” kataku sambil mengusap rambutnya “aku terlalu mencintaimu Ryeowook-aah, aku bingung saat oemma memintaku untuk memutuskan hubungan kita. Aku takut. Aku takut kehilanganmu” katanya di tengah isak tangis.

“Kenapa Oemma meminta hubungan kita berakhir?” tanyaku.

Ia menatapku “ia bilang, jarak kita terlalu jauh. Ia tidak tega melihatku bolak-balik Jakarta-Seoul setiap tahunnya” jelasnya, aku termenung. Memang selama ini dia yang lebih sering bolak-balik dibanding aku “bilang pada oemmamu, mulai sekarang aku yang akan melakukan itu” kataku sambil mengusap airmatanya.

“Aku sangat mencintaimu Ryeowook, aku takut. Aku takut kau meninggalkanku dan mencintai wanita lain” katanya masih terisak. Aku memeluknya “percayalah padaku, aku tidak akan meninggalkanmu dan mencintai wanita lain” kataku. Dia mengangguk.

**

“Kau tidak merasa aneh pada Jieun?” tanya Yesung Hyung saat aku baru saja keluar dari kamar Jieun, aku menatapnya heran lalu duduk dihadapannya “sedikit, wajahnya sedikit pucat dan kulitnya sangat dingin” jelasku. Yesung Hyung hanya mengangguk “ada banyak hal yang tidak kau ketahui tentangnya” ucapnya sambil berlalu.

“Maksudmu?” tanyaku.

Dia menoleh “kau akan tau nanti” jawabnya kemudian ia masuk kembali ke kamarnya. Aku masih bengong mendengar ucapan kakakku itu. Dia itu memang aneh tak heran aku susah untuk mencerna omongannya.

“Jagiya, kenapa kau meninggalkanku?” tiba-tiba suara Jieun mengangetkanku “aku pikir kau sudah tidur?” tanyaku, dia menggeleng “temani aku, aku ingin berbicara denganmu” katanya.

Aku masuk kekamarnya dan duduk disampingnya “apa yang ingin kau tanyakan?” tanyaku.

Dia menyandarkan kepalanya di bahuku “aku boleh tau kenapa kau mencintaiku dan rela menjalin hubungan jarak jauh denganku?” tanyanya, aku tidak langsung menjawab. Sudah 3 tahun aku mencintai perempuan ini namun aku tidak pernah menemukan alasan pasti mengapa aku mencintai dirinya “aku tidak tau” jawabku.

Dia menegakkan posisinya dan memukulku “sudah 3 tahun bersama kenapa kau tidak punya alasan yang pasri?” rengeknya, aku tertawa “itu karena aku mencintaimu apa adanya dirimu Jieun bukan karena ada sesuatu didalam dirimu” jelasku. Dia mengangguk “kalau begitu, apa yang kau suka dari wajahku?” tanyanya.

Aku memperhatikan wajahnya lalu mengecup bibirnya. Dia terkejut “aku kan bertanya, kenapa kau menciumku?” tanyanya malu. Aku tertawa. Sudah 3 tahun tapi dia masih saja merasa malu seperti itu “itu yang aku suka dari wajahmu, bibirmu yang selalu mengguratkan senyum indah untukku” jawabku, dia tersipu malu.

“Kau ini, pandai sekali merayuku” katanya.

Aku tertawa “pria mana yang tidak tahan untuk tidak merayu kalau melihat wajahmu yang manis itu” godaku, kemudian dia mencubit lenganku “terus saja buat aku tersipu malu” katanya lalu aku memeluknya dan mencium rambutnya yang wangi “aku mencintaimu” kataku. “Aku juga” jawabnya.

**

Jiuen hari ini pulang ke Indonesia, aku tidak mau oemma-nya merasa khawatir padanya. Ia berjanji padaku akan kembali beberapa hari lagi, aku sudah bilang aku yang akan pergi ke Indonesia namun ia tetap memaksa.

Aku membuka pintu rumah. Gelap. Yesung Hyung pasti belum pulang dari kantornya. Kemudian aku menyalakan televise agar tidak terlalu sepi lalu menuju dapur untuk membuat makanan namun suara televisi mendadak mati, aku menghentikan langkahku dan kembali keruang tengah, menatap televisi yang padam lalu aku menyalakannya lagi.

Aku kembali kedapur, mengambil telur di dalam kulkas dan menggorengnya tiba-tiba pintu kulkas tertutup dengan kencang, aku menoleh. Tadi aku sengaja membiarkannya terbuka karena aku ingin mengambil sayuran setelah memasak telur. Lalu aku menoleh ke arah pintu. Tertutup. Aku memalingkan wajah ke arah jendela, benar saja, jendelanya terbuka dan anginnya berhembus kencang lalu aku menutupnya.

Baru saja aku balik badan sebentar, jendela sudah terbuka lagi/ aku menutupnya dan menguncinya. Aneh sekali malam ini. Pikirku.

**

Kejadian-kejadian aneh mulai menyerangku beberapa hari terakhir. Aku lebih sering mendengar suara Jieun di rumahku. Seperti inikah rasanya rindu setengah mati itu? Sampai aku mendengar suara kekasihku di setiap jengkal rumahku.

Aku juga merasakan ada oranglain saat aku berjalan sendirian di tengah jalan ataupun dirumah. Aku mencoba cuek namun perasaan itu makin menggentayangiku, hari ini sama seperti hari biasanya. Aku melihat bayangan Jieun di sudut kamarku namun aku sadar itu hanya khayalanku karena aku merindukannya.

Aku memejamkan mataku, mencoba tidur dan memimpikkan Jieun.

**

Aneh. Aku melihat Jieun sedang merajut sweeter yang ia berikan padaku saat ia sampai di rumahku. Aku menatap sekelilingku dan menyadari kalau aku ada dikamarnya, aku berjalan menujunya dan memegangnya. Tembus. Kenapa ini?. Tanyaku.

Pintu kamar Jieun terbuka. Oemma-nya berdiri dengan wajah marah, aku melihat Jieun tengah menyembunyikan rajutannya yang hampir selesai “Jieun, oemma sudah bilang, berhenti mencintai pria bernama Kim Ryeowook itu!” bentak oemmanya.

Jieun menggeleng “Oemma tidak tau bagaimana dia mencintaiku, sudahlah oemma, aku tidak akan berhenti mencintainya!” kata Jieun tak kalah sengit.

Aku bingung. Aku menatap Jieun dan Oemmanya yang terdiam dan hanya saling pandang, aku mencoba menyentuh sekelilingku namun hasilnya tetap sama. Tembus.

“Kau tidak lelah bolak-balik kesana? Mungkin saja sekarang ia sedang bersama wanita Korea yang jauh lebih cantik darimu” kata Oemma, aku terkejut. Aku tidak sejalang itu!. Bentakku dalam hati.

“Sudah kubilang, Oemma tidak mengenal Kim Ryeowook seperti aku mengenalnya, aku percaya dia hanya mencintaiku” jawab Jieun.

Oemmanya menghela nafas “kau jangan mengejek dirimu sendiri Jieun, kau tau darimana kalau ia hanya mencintaimu? Buktinya dia jarang mau berkorban untukmu” kata oemmanya lagi. Jieun diam. Dia sepertinya mencoba mencari alasan yang tepat “kau diam kan? Tidak bisa membuktikan padaku kan kalau ia mencintaimu?” kata Oemmanya lagi.

Jieun mulai terisak “oemma diamlah, hanya aku yang tau seberapa besar cinta Kim Ryeowook padaku” jawabnya/

“Oemma tidak peduli, mulai sekarang kau tidak boleh pergi kemana-mana” katanya. Lalu ia pergi dan mengunci pintu kamar Jieun.

Jieun menggedor pintu, merengek meminta dibukakan pintu. Aku bingung harus melakukan apa, aku masih diam terpaku ditempatku. Menatap Jieun yang sekarang berjalan menuju meja belajarnya dan menulis sesuatu diatas kertas, melipatnya dan menyimpannya didalam sebuah laci.

Ia kembali menggedor pintu sambil menangis “Oemma, bukakan pintu, ijinkan aku bertemu dengannya untuk yang terakhir kali oemma. Aku sangat mencintainya” katanya. Pipinya mengalir airmata, aku ingin menangis melihatnya seperti itu.

Lama aku memandanginya yang terduduk lemas sambil memeluk boneka pemberianku. Dia masih berteriak berharap oemmanya membukakan pintu untuknya namun hasilnya tetap sama.

Ia membongkar semua laci dikamarnya, mencoba mencari sesuatu. Dia menyeka airmatanya dan memegang sebuah gunting, aku terperanjat. Apa yang akan dilakukannya.

“Oemma! Bukakan pintunya, kalau tidak aku akan bunuh diri!” teriaknya. Tak ada jawaban “OEMMA!” teriak Jieun lebih keras “bunuh diri saja kalau kau berani!” tantang oemmanya.

Mendengar kalimat itu, Jieun langsung menggoreskan sedikit demi sedikit gunting itu di nadi tangannya “oemma!” rintihnya perlahan. Aku berusaha memegang tangannya namun tetap saja tembus.

Jieun kemudian kehilangan kesadarannya, ia mulai tumbang, tangisnya tak lagi keluar. Ia limbung. Jatuh di sudut kamar dengan boneka yang terkena simbahan darahnya disampingnya. Aku menangis melihat Jieun kehilangan nyawanya didepanku. Aku berteriak memanggil namanya, menangis meraung dan berharap aku cuma bermimpi.

**

Seminggu kemudian.

Aku senang karena yang aku lihat waktu itu hanyalah sebuah mimpi. Kemarin Jieun datang lagi menepati janjinya. Dia masih sama, pucat dan dingin. Namun aku sudah terbiasa dengannya yang seperti itu.

“Oemma tidak apa-apa melihat kau kembali kesini?” tanyaku, dia menggeleng “keluargaku sedang pergi keluar kota jadi mereka tidak tau kalau aku pergi mendatangimu” jawabnya. Dia menyandatkan kepalanya dibahuku “Ryeowook-aah” panggilnya. “hmm” jawabku.

“Nikahi aku” pintanya.

Aku terkejut. “Apa kau bilang?” tanyaku.

“Nikahi aku” ucapnya ulang. Aku tidak menjawab lalu ia menatapku “kenapa tidak menjawab?” tanyanya. Aku menatap wajah pucatnya “aku memang ingin melamarmu, tapi aku takut lamaranku ditolak orangtuamu” jelasku.

“Kalau orangtuaku menolaknya, kita kawin lari saja” katanya cuek. Aku tertawa “aniyo, aku tidak mau seperti itu jagiya, aku mau pernikahan kita menjadi sesuatu yang terindah dalam hidupku”.

Dia menangguk “lamar saja aku dulu, kalau tidak dicoba tidak tau kana pa hasilnya nanti?” katanya.

**

Aku berjalan pulang sehabis membeli cincin untuk Jieun. Hari ini aku akan mengajaknya pulang ke Indonesia dan melamarnya. Dia pasti senang aku beri kejutan seperti ini.

Dikejauhan aku melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahku. Mungkinkah itu keluarga Jieun? Aku mempercepat langkahku menuju rumah.

Benar saja, aku melihat oemma dan appa Jieun sedang berbincang dengan Yesung Hyung. Wajah mereka muram “Annyeong oemma, annyoeng appa” sapaku pada mereka berdua. Mereka membalas sapaanku “Hyung, Jieun mana?” tanyaku saat menyadari kekasihku tidak disana. Mendengar nama Jieun, oemma mendadak menangis, aku bingung lalu menatap Yesung Hyung.

“Duduklah dulu, aku akan jelaskan semuanya” katanya.

JDER!!!

Seperti ada petir menyambar kedalam hatiku.

Ku cerna ulang semua cerita Yesung Hyung barusan. Mimpiku malam itu ternyata sebuah kenyataan yang terjadi pada kekasihku. Jieun benar-benar pergi. Meninggalkan perasaan cinta yang sangat mendalam dihatiku.

Oemma memberikan sebuah surat kepadaku. Aku membacanya perlahan.

 

Untuk Kim Ryeowook.

Jagiya, sedang apa kau disana? Tidak sedang berkencan dengan wanita Korea yang lebih seksi dariku kan? Aku merindukanmu. Aku kadang bingung kenapa kau jarang pergi ke Indonesia dan bertemu denganku namun aku mencoba mengerti, kau pasti sibuk dengan kuliahmu disana.

Oemma selalu bertanya padaku, seberapa cintakah kau padaku? Aku selalu membelamu walau ia selalu menganggap kau menipuku. Kau tidak menipuku kan jagi?

Cuma aku yang tau seberapa besar kau mencintaiku, cuma aku yang tau kenapa kau tidak pernah berkorban untuk pergi ke Indonesia. Aku mencintaimu jagiya, lebih dari yang kau tau. Kau tau? Aku belajar merajut hanya untuk membuatkanmu sebuah sweeter hangat. Aku harap kau menyukainya walaupun tidak sebagus buatan toko.

Maaf kalau saat membaca surat ini, kertas dan tulisan yang kau baca sedikit luntur dan rusak. Aku menangis saat membuatnya, sekali lagi maaf karena aku ingkar untuk tidak menangis. Namun keadaan sekarang memaksaku untuk menangis.

Andai aku diberi waktu, aku ingin menemuimu dan memaksamu untuk menikahiku agar kita bisa hidup bersama selamanya, menggendong anak, membesarkannya dan pada akhirnya menggendong cucu dan saling menjaga dihari tua kita. Kau maukan jagiya? Menikah denganku dan hidup selamanya?

Aku terlalu mencintaimu. Tak mampu aku melupakan senyum dan tawamu. Aku tak perlu alasan kenapa kau mencintaiku karena aku juga tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang sama.

Kekasihmu, Lee Jieun.

Airmataku mengalir deras. Aku memeluk diriku sendiri yang sedang memakai sweeter pemberian Jieun. Aku tidak peduli sekitarku. Aku menangis meraung memanggil nama Jieun.

**

AUTHOR POV

Ryeowook menatap pusara Jieun dihadapannya. Ia membawa bunga mawar merah kesukaan Jieun. Ia berjongkok dan menaruh diatas pusaranya.

“Terlalu cepat Jieun, terlalu cepat kau meninggalkanku tanpa mewujudkan mimpimu itu” katanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak merah dan menaruhnya disebalah buket bunga mawar itu.

“Aku akan menyimpanmu selamanya jagi, kau cinta pertamaku dan sejatiku. Mungkin akan sulit bagiku untuk mencari penggantimu” tambah Ryeowook. Dia berdiri dan berjalan perlahan. Tanpa sepengetahuannya, Jieun memegang tangannya dan berjalan disamping Ryeowook sambil menyandarkan kepalanya di pundak kekasihnya itu.

 

Pesan Author (WAAAAAA mianhe ya kalau FF yang aku buat agak aneh hehehe masih belajar juga soalnya, oiya FF ini udah di terbitin juga di blog aku AltRiseSilver.blogspot.com. jangan lupa comment ya biar aku tau kekurangan dari tulisan aku apa, gomawo^^)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s