Coagulation

Title : Coagulation
Cast : Ahn Jaehyo (Block B), Shin San Kee
Genre : Angst,Romance
Rating : General

Aku membuka perlahan kedua mataku, sakit akibat benturan tadi masih terasa di sekujur tubuhku. Pandanganku masih mengabur, aku mengerjap-ngerjapkan mataku. “Jaehyo,” rintihku pelan memanggil nama kekasihku. Pandanganku mulai jelas, kutatap mobil Jaehyo yang sudah terbalik dan ringsek.

“Jaehyo,” rintihku lagi sambil mencari sosoknya di sampingku. “Jaehyo,” panggilku lebih keras namun aku tidak menemukan dirinya di sampigku. Aku mencoba berdiri walau sakit di badanku masih terasa nyeri. Kulangkahkan kakiku menuju mobil sesaat setelah bangkit, berharap menemukan kekasihku disana.

“Jaehyo,” panggilku perlahan namun tetap tidak ada jawaban. Aku membungkukkan tubuhku, melongokkan kepala dari jendela yang kacanya sudah hancur berkeping-keping. “Oppa,” ucapku dengan suara tercekat saat melihat tubuh kekasihku masih duduk di bangku kemudi. Badannya tertahan di seatbelt dan membuatnya tertahan dengan posisinya.

Aku menyusup masuk kedalam mobil tidak peduli pecahan kaca menggores kulitku yang penuh dengan luka. “Oppa,bangunlah,” ucapku sambil mengguncang-guncangkan pundaknya dan memegang wajahnya yang juga penuh luka.

Dia merintih, aku yakin badannya pasti kesakitan juga. “San Kee,” ucapnya memanggil namaku. Aku menatap bola matanya yang perlahan terbuka lebar. Mata yang selalu menatapku itu berbeda, seperti bukan matanya. Tanpa sadar airmataku bergulir perlahan dan isakku mulai terdengar.

“Jangan menangis, aku baik-baik saja,” ujarnya menenangkanku sambil tersenyum perih. Tangisku makin pecah, perlahan kujulurkan tanganku untuk membuka seatbeltnya. “Tidak bisa dibuka,” ujar Jaehyo saat melihatku kesusahan membuka seatbeltnya. Aku menatapnya lagi, airmataku masih bergulir tak mau berhenti. “Sudahlah San Kee-a, ini sudah jalanku.”

Aku menatapnya lagi. “Apa maksudmu sudah jalanmu? Kau berniat meninggalkanku?!” bentakku setelah mendengar ucapannya. Pria ini, baru kali ini ia mengatakan hal yang negatif seperti ini dan disaat yang segenting ini.

“Aku tidak akan meninggalkanku sayang,” ucapnya. Aku menggeleng, sesusah apapun seatbelt ini terbuka dia harus selamat bagaimanapun caranya, aku tidak peduli.

“Kau mencium bau bensin?” tanyanya kemudian saat aku sedang sibuk berusaha. Aku menghentikan kegiatanku lalu mengenduskan hidungku, mencium apa yang dikatakannya. Bau bensin! Aku membulatkan mataku lalu menarik kasar seatbeltnya agar mau terlepas dari badan kekasihku itu.

Dia meraih tanganku. “Sudahlah,” ucapnya putus asa. Dia sudah yakin kalau usahaku pasti tidak membuahkan hasil. “Kau harus hidup! Apapun caranya kau harus hidup!” pekikku tak mau mendengar keputusasaannya. “San Kee dengarkan aku,” ucapnya. Aku menggeleng dan meneruskan pekerjaanku menyelamatkannya. “San Kee dengarkan aku!!” bentaknya. Aku terdiam. Mataku menangkap matanya. “Aku akan selalu hidup dihatimu, aku akan hidup kalau kau tetap hidup jadi kumohon, keluarlah sekarang dari mobilku, bahagialah dengan kehidupanmu selanjutnya.”

Airmataku bergulir lebih deras lagi. Aku memandangnya tanpa bisa membalas ucapannya, aku membutuhkannya, aku bahagia juga karenanya.

“Bahagiaku adalah bersamamu,” ucapku ditengah isak tangis. Dia merengkuh wajahku lalu menarik wajahku mendekati wajahnya. Bibir kami bertemu, aku menyambut ciuman hangat itu, biasanya aku marah saat ia menciumku tanpa meminta ijin padaku namun kali ini aku membiarkannya. Aku takut ciuman ini menjadi kenangan terakhirku bersamanya.

Bau bensin semakin menyeruak. Suara sirine ambulance perlahan terdengar dikejauhan. “Keluarlah, ku mohon,” pintanya saat melepas pelukanku. Aku menggeleng, kalau takdirku bersamanya maka biarkanlah aku mati bersamanya juga. “Keluarlah, berbahagialah dengan kehidupanmu selanjutnya,” ucapnya lagi. Aku menggeleng makin kuat.

Suara sirine terdengar makin jelas, kulihat mobil ambulance dan polisi terparkir tak jauh dari tempat kami. “Jangan tinggalkan aku Oppa, aku membutuhkanmu,” bisikku. Dia mengusap lembut wajahku, tatapan mata yang selalu kukenal mulai terlihat lagi sekarang. “Pergilah,” pintanya lagi sambil menyunggingkan senyumnya.

Seseorang menarik tanganku. Aku menoleh, seorang polisi menyuruhku keluar namun aku menggeleng kuat. Bau bensin makin tercium, aku sudah siap kalau harus mati sekarang ini. “Kita akan bertemu di surga suatu saat nanti,” ucap Jaehyo sebelum menutup matanya. Tangan polisi itu terus menarikku dan berhasil membuatku keluar dari mobil.

Aku meronta, aku harus kembali kesana, aku tidak ingin meninggalkan Jaehyo sendirian menghadapi kematiannya. Aku terus meronta namun polisi itu terus menahanku pergi. Aku menangis meraung, kulihat kepala Jaehyo menoleh, menatapku sambil tersenyum seakan semuanya biasa saja.

Lalu tiba-tiba.. DUAR!!!

Sebuah ledakan hebat meledakkan mobil Jaehyo beserta kekasihku didalamnya. Aku meneriakkan namanya, aku berteriak berharap ada sebuah keajaiban kekasihku bisa keluar dari sana. Aku meraung, tangan polisi itu masih menahanku. Tak ada yang menolongnya, bahkan orang-orang yang datang ini hanya menolongku, tidak kekasihku!!

Kobaran api di mobil Jaehyo masih besar, aku jatuh berlutut dengan lututku. Semua persendianku lemas, kepalaku sudah tidak bisa berpikir jernih. Genggaman tangan polisi itu perlahan terlepas mengetahui aku sudah tidak meraung. “Aku tidak bisa bahagia tanpamu,” bisikku. Aku masih menatap kobaran api itu. Semua orang masih memandang objek yang sama sepertiku.

Aku berdiri. Melihat sekelilingku yang masih terpaku terdiam, sebuah pikiran gila menyeruak di kepalaku. Aku harus menyusulnya, aku harus menyusul Jaehyo kesana.

Aku menggerakkan kakiku perlahan, orang-orang dibelakangku masih terdiam tak menyadarinya. Aku menghapus sisa airmata di pipiku kemudian berlari menuju kobaran api, orang-orang mulai berteriak memanggilku. Aku tidak peduli dengan teriakan mereka, aku tidak peduli dengan degup jantungku yang kencang, aku tidak peduli aku akan ke surga atau neraka, yang aku pedulikan hanyalah aku ingin bersama Jaehyo.

Mataku terpejam, kobaran api itu menghangatkanku walau perlahan aku merasakan tubuhku melepuh. “Tunggu aku Oppa.”

The End

Iklan

2 pemikiran pada “Coagulation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s