Memories

Judul : Memories

Author : AltRiseSilver

Genre : Angst, Romance

Rating : General

Cast : Lee Sungmin, Henry Lau, Yeri

Author POV

“Sungmin, aku boleh bertanya?” Tanya Yeri kecil pada anak lelaki di hadapannya yang sedang menulis sesuatu di atas kertas. Sungmin menengadah, menatap wajah Yeri yang polos “Ne” katanya. Yeri menarik nafas “apa kau menyukaiku?” tanyanya polos kemudian wajahnya mulai merona. Sungmin menatap gadis kecil di depannya dengan wajahnya yang polos “kenapa wajahmu memerah Yeri?” tanyanya.

Yeri menunduk, ia merasakan wajahnya makin panas “jawab saja Sungmin” katanya lirih sambil terus menunduk. Sungmin ingin tertawa melihat tingkah Yeri seperti itu, lalu ia memberikan kertas yang tadi ia tulis sesuatu pada Yeri. Yeri mengambil kertas itu, membacanya lalu tersenyum kemudian ia melihat wajah Sungmin yg tersenyum padanya. “Sungmin-aah”

Author POV end.

**

Sungmin POV.

7 tahun berlalu setelah kejadian Yeri menanyakan perasaanku padanya. Aku masih tersenyum saat mengingatnya. Umur kami waktu itu masih 10 tahun, masih terlalu kecil untuk mengenal cinta namun sepertinya saat itu aku sangat senang bisa menyukainya. 7 tahun bersama Yeri aku tidak pernah menemukan satu titik kejenuhan, ia periang, selalu tertawa dan sangat susah di buat menangis. Itu yang aku suka darinya.

Dan satu lagi, Yeri selalu mendukung apapun keputusanku. Sekarang aku sedang menjalani training di salah satu Entertainment di Korea, sudah hampir setahun aku menjalani masa training dan Yeri tetap mendukungku. Ia percaya padaku dan aku berharap aku akan segera debut.

Pintu rumahku diketuk seseorang, aku tau itu Yeri. Siang tadi aku menyuruhnya untuk datang malam ini Karena aku ingin mempunyai waktu berdua dengannya setelah hampir setahun aku selalu meninggalkannya sendirian dengan Henry. Sahabatku. “Jagiya!!” teriak Yeri saat aku membuka pintu rumahku, spontan dia memelukku erat.

“Aku merindukanmu Jagi” katanya manja, aku tersenyum lalu melepas pelukannya “aku juga merindukanmu, masuklah, kita makan dulu” kataku. Kami berdua masuk kedalam rumah, Yeri terlihat senang dengan kejutan makan malam yang aku berikan padanya. Kami makan bersama dan berbincang-bincang. Aku sangat merindukan waktu berdua dengannya seperti ini.

“Yeri-aah” panggilku.

Dia sedang tidur dipangkuanku. “Ne” jawabnya.

“Kapan ya aku bisa debut?” tanyaku. Yeri diam, dia sedang berpikir “mungkin lusa? Atau minggu depan? Kamu kan sudah hampir setahun training pasti sebentar lagi akan segera debut jagiya” jawabnya yakin, aku menatap matanya “kamu yakin lusa aku akan debut?” tanyaku. Ia berdehem “lusa terlalu cepat, bagaimana kalau minggu depan?” tawarnya. Aku mendelik.

“Hey! Kamu ini tidak konsisten. Memangnya kenapa kalau lusa aku akan debut?” tanyaku, dia bangun dari pangkuanku dan menatapku lebih dalam “sebenarnya aku belum bisa menerima kenyataan kalau kekasihku menjadi penyanyi” katanya.

Aku terkejut “Waeyo?” tanyaku.

Dia memalingkan wajahnya. Menatap layar televisi.

“Aku tidak mau saja, kamu pikir enak melihat kekasih sendiri akan berdekatan dengan lawan jenisnya” jelasnya. Aku tersenyum. “Jadi, kamu belum percaya padaku?” tanyaku.

Dia menggeleng “Aniyo. Hanya saja aku tidak suka melihatmu berdekatan dengan gadis lain selain aku. Mereka itu tidak baik untukmu”. Aku memperhatikan Yeri yang masih menatap layar televisi sambil menggembungkan pipinya. Aku gemas melihatnya seperti itu, lalu aku memeluknya “percaya padaku Yeri” bisikku.

Sungmin POV end.

Yeri POV.

Sepertinya Sungmin ingin buru-buru melakukan debut. Jujur sampai saat ini aku masih belum mau dia debut. Aku takut Sungmin yang aku kenal selama 7 tahun berubah hanya dalam waktu sekejap.

Aku menatap layar televisi namun pikiranku melayang entah kemana. Tiba-tiba saja Sungmin memelukku “percayalah padaku Yeri” bisiknya. Kemudian ia memelukku lebih kencang. Aku melepas pelukannya dan menatapnya “Sungmin-ahh, mau berjanji padaku?” tanyaku. Sungmin mengangguk.

Aku menggigit bibirku lalu mendesah “Berjanjilah untuk menjadi Sungmin yang aku kenal sampai detik ini, jangan menjadi Sungmin yang menjaga image hingga akhirnya menjadi Sungmin yang tidak aku kenal” pintaku. Sungmin masih mencerna pembicaraanku. Kemudian dia mengangguk “Ne Yeri, aku berjanji aku tidak akan berubah seperti itu” katanya.

Aku tersenyum bahagia, setidaknya Sungmin membuatku yakin kalau ia akan tetap menjadi dirinya sendiri sampai kapanpun.

**

“Jadi bagaimana kencan semalam?” Tanya Henry mengagetkanku. Bagiku Henry itu seperti hantu, gampang sekali menghilang lalu muncul lagi. “Kau bisakan mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar oranglain?” tanyaku kesal. Tanpa berdosa ia menunjuk pintu kamarku yang terbuka lebar “daritadi pintunya terbuka jadi aku pikir tidak masalah kalau aku masuk” jawabnya polos.

Aku memandangnya sinis “Setidaknya kau permisi dulu Mochi tampan!” kataku kesal. Pipinya yang sedikit chabi itu mengingatkanku pada kue Mochi sehingga kadang aku memanggilnya Mochi. Dia hanya tersenyum lebar mendengar kata tampan keluar dari mulutku. Sebenarnya aku berniat membuka buku pelajaranku sebelum Mochi menyebalkan itu datang namun aku mengurungkan niatku.

Kedatangannya akan merusak konsentrasi belajarku. Dia duduk di kasurku “aku lapar” gumamnya. Aku menjitak kepalanya “jadi kau kerumahku hanya untuk meminta makan?” tanyaku kesal. Dia tidak menjawab, hanya merintih kesakitan sambil mengusap kepalanya. “Yeri-aah, aku ini siapa? Aku ini sedang dimana?” racaunya tak jelas, aku lemas. Dia berlagak amnesia tapi menyebut namaku.

“Baiklah, ikut aku kedapur” kataku. Henry yang sedang berakting langsung mengikutiku kearah dapur. Kebetulan sekali Oemma sedang memasak makan malam, tanpa malu Henry menghampiri Oemmaku dan bertanya apa ia boleh makan disini atau tidak. Aku tidak perlu tau Oemma menjawab apa, tanpa di tanya sebenarnya Henry pasti diperbolehkan namun ia masih saja suka bertanya seperti itu.

Kadang aku prihatin dengan keadaan Henry yang selalu ditinggal orangtuanya berpergian. Namun sifatnya yang aneh bin ajaib itu kadang membuatku lupa kalau dia sebenarnya kesepian. Dia sudah duduk manis di tempatnya saat makanan sudah siap. Tersenyum manis kepada Oemma seperti anak berumur 5 tahun. “Henry-aah, senyummu itu seperti anak kecil saja” kataku.

Dia melihatku “biar saja, daripada senyummu. seperti Ahjumma” celanya. Aku bengong. Yang benar saja dia ini berani mencelaku di depan Oemmaku. Mendengar celaan itu Oemma bukan membelaku malah tertawa terkekeh-kekeh “Oemma, kenapa tertawa? Senang sekali anaknya di cela si Mochi ini” kataku memelas sambil menyendokkan nasi ke mulutku.

Henry sepertinya tidak peduli, dia malah melahap makanan yang ia mau “Aniyo Yeri, kalian itu seumuran tapi seperti adik-kakak yang selalu bertengkar” jawab Oemma. Aku tidak menjawab, aku menatap Henry yang masih mengunyah makanannya. Dibalik keanehannya itu aku tau dia sangat membutuhkan sosok keluarga.

 

**

Seminggu kemudian.

Aku menunggu Sungmin bersama Henry disebuah restoran. Dia bilang dia akan memberi kabar pada kami berdua. Seperti biasa, Henry membuatku kesal dengan ocehannya dan untunglah Sungmin datang sebelum aku menghancurkan seisi Restoran. Oke itu berlebihan maksudnya sebelum dia membuat kegaduhan berlebihan yang membuat kami berdua diusir.

“Jadi apa kabar baiknya?” tanya Henry tidak sabar. Aku mengangguk. Setuju dengan pertanyaan Henry.

Sungmin tersenyum.

Yeri POV end.

Henry POV.

Sungmin akhirnya datang dan ada sedikit kelegaan di wajah Yeri. Aku hanya tersenyum menatap wajah gadis yang aku sayangi itu.

Saat Sungmin baru meletakkan bokongnya di kursi aku langsung bertanya “Jadi apa kabar baiknya?” dan diikuti anggukkan tak sabar Yeri. Sungmin masih tersenyum menatap kami berdua.

“Aku akan debut” jawabnya.

Kami berdua terkejut. Namun aku rasa terkejutnya aku dan terkejutnya Yeri berbeda. Aku senang Sungmin akan segera debut namun sepertinya Yeri belum siap.

“Yeri-aah, doamu itu manjur” lanjut Sungmin sambil menatap Yeri. Yeri mencoba tersenyum walaupun di wajahnya masih terlihat bahwa ia belum mau Sungmin debut. “Cukkhae Sungmin-aah” kataku “Gomawo” jawabnya.

Yeri belum mengeluarkan satu kalimatpun dari bibirnya, tak lama ia berdiri. Lalu meninggalkan Restoran. Sungmin terkejut lalu mengejarnya, meninggalkanku sendirian di dalam Restoran.

**

Kali ini aku ingin bersikap sopan di depan Yeri. Aku mengetuk pintu kamarnya, kata Oemma dia belum makan sehabis kembali dari pertemuan kami tadi siang. “Masuklah” katanya dari dalam kamar. Aku membuka pintu. Yeri sibuk menulis sesuatu. Buku Diarynya. Melihat aku yang masuk kekamarnya ia buru-buru menyimpan diary itu dibalik bantal.

“Mau apa?” tanyanya agak sinis, aku menghampirinya dan duduk disampingnya “Aku tidak akan mengganggumu dengan ulah anehku kali ini” kataku, dia menatapku “Waeyo?”.

“Aku tau kenapa kau pergi dari Restoran tadi siang”.

Yeri terkejut “Sungmin cerita padamu?” tanyanya, aku menggeleng.

“Terlihat dari wajahmu kalau kau belum mau ia debut” jawabku, dia menundukkan kepalanya “Benarkan?” tanyaku meminta kepastian. Dia mengangguk lemas. Selama ini tebakkanku tentang isi hatinya tidak pernah salah kadang aku berpikir harusnya aku yang ada dihatinya bukan Sungmin. Dia mengangkat wajahnya dan menatapku “aku masih takut ia berubah Henry-ahh, aku punya firasat buruk” katanya.

“Aku mengerti tapi saranku untuk saat ini dukung dia dulu, kalau ia mencintaimu dia tidak akan menyianyiakan dirimu apalagi aku tau hubungan kalian itu sudah 7 tahun” kataku meyakinkan dirinya. Berat baginya mengangguk untuk mengiyakan saranku, aku mengusap kepalanya lalu memeluknya.

**

Tak ada seminggu nama Lee Sungmin sudah terdengar seantero Korea. Banyak yang menyukai kehadirannya saat ini. Aku dan Yeri hanya bisa menyaksikan debutnya di televisi. Hingga detik ini Sungmin belum mengabari kami atau menemui kami.

Jelas terlihat kalau Yeri menyimpan kegelisahannya sendirian. Aku mencoba menghiburnya namun Yeri tetap saja gelisah, hari ini aku memutuskan untuk menghubungi Sungmin. Berulang kali aku menekan tombol replay karena sambungannya sibuk, sedang menelpon siapa Sungmin ini? Pikirku dalam hati.

Akhirnya setelah sekian ribu kali, teleponku diangkat olehnya “YA! Kau kemana saja?” tanyaku tanpa menyapa dengan sopan diujung telepon aku mendengar suara tawanya “Mianhe, aku sibuk akhir-akhir ini” jelasnya “aku tidak peduli kau sibuk atau tidak, aku Cuma meragukan apa kau masih mengingat kekasihmu atau tidak” kataku.

Dia terdiam. Aku mendengar suara helaan nafasnya “kalau kau masih mengingatnya, hubungilah dia, kau tidak tau kan dia tidak mau makan 3 hari terakhir” jelasku melebihkan “benarkah?” tanyanya mulai khawatir.

“Makanya, hubungilah dia, kau terlalu sibuk” jelasku lagi kemudian menutup teleponnya.

 

Malam ini aku mendengar Yeri menelponku dengan suara yang riang, dia bilang sore tadi Sungmin datang kerumahnya dan membawa sebuah boneka beruang besar untuknya. Walaupun kedatangan Sungmin hanya sebentar itu sudah membuat Yeri tersenyum hari ini dan aku sangat bahagia mendengarnya.

Kalau boleh berkata jujur, aku menyukai Yeri. Aku menyukai senyumnya dan matanya. Terlihat manis. Aku terkadang menyesal kenapa harus Sungmin yang ia kenal dahulu daripada aku padahal aku merasa kalau aku lebih cocok untuk Yeri dibanding Sungmin. Apalagi disaat seperti ini, Sungmin terlalu lama membuat Yeri menunggu.

“Henry-ahh” panggilnya dari ujung telepon “Ne” jawabku.

“Aku mencintai Sungmin”

Aku diam. Tak bisa menjawab apa-apa selain menghela nafas panjang.

Henry POV End.

**

Author POV.

Waktu berjalan begitu cepat. Sudah hampir 6 bulan Sungmin menikmati kehidupannya yang baru, perlahan namun pasti ia mulai melupakan Yeri. 6 bulan terakhir pula ia menjadi sorotan kamera karena banyaknya gossip miring tentang dirinya dengan seorang penyanyi wanita. Yeri yang mendengar berita tersebut hanya bisa menangis dan mengurung diri dikamar.

Sama seperti saat ini, sudah seharian dia mengurung diri dikamar. “Yeri-ahh keluarlah dari kamarmu” panggil Henry setelah mendapat telepon dari oemma Yeri, tak ada jawaban dari dalam kamar “Kalau Sungmin kesini, kau akan membuka pintu kamarmu?” tanya Henry, masih tak ada jawaban. Henry mengetik sebuah sms kepada Sungmin dan berharap ia segera membacanya.

Henry masih membujuk Yeri untuk keluar kamar, sejam berlalu namun tak ada jawaban dari Sungmin. Diteleponnya lelaki yang membuat Yeri ini menyendiri, tidak diangkat. “HAH!” teriak Henry kesal, ingin rasanya ia membanting ponselnya karena kesal pada Sungmin. Ditatapnya pintu kamar Yeri yang masih tertutup, ia menghela napasnya.

Semenit kemudian, Henry seperti menemukan sebuah ide. Ia berlari meninggalkan rumah Yeri, mencoba mencari Sungmin.

BUKK!! Henry memukul wajah mulus Sungmin. Tak menyangka ia akan menemukan lelaki itu disebuah club malam bersama seorang gadis bayaran berpakaian seksi dan make up tebal yang sedari tadi memeluk Sungmin manja. Henry berang. Dipukulnya lagi wajah Sungmin, kini mereka menjadi tatapan semua orang di club malam tersebut.

Sungmin tidak tinggal diam, merasa dipermalukan ia balas pukulan Henry. Bertubi-tubi, wajah Henry penuh noda darah namun tak ada yang mampu memisahkan perkelahian tersebut sampai 2 security masuk dan memisahkan mereka.

**

Henry dan Sungmin masih didalam ruang pemeriksaan, diluar kantor polisi terlihat banyak wartawan yang ingin mendapat berita terbaru yang mereka dengar. Merasa kasus mereka tidak perlu dibesar-besarkan polisi membebaskan mereka.

“Yeri membutuhkanmu! Tidak bisakah kau meluangkan waktumu untuk kekasihmu itu?!” bentak Henry saat keluar dari ruang pemeriksaan, Sungmin mencibir Henry “Kekasih apa? Aku tidak punya seorang kekasih” kata Sungmin sinis, Henry mengepalkan tangannya, sadar bahwa ia masih didalam kantor polisi dan mencoba menahan amarah akibat perkataan Sungmin barusan.

Ia menatap Sungmin yang keluar dari kantor polisi dan dengan susahnya ia melewati kerumunan pers untuk menuju mobilnya ‘Kau bukan Sungmin yang aku kenal, sudah seharusnya Yeri melupakanmu’ batin Henry.

Ia menunggu semua wartawan itu pergi baru ia akan pulang, ia tidak mau menjadi bulan-bulanan para pencari berita yang kadang menyusahkan oranglain itu. Ia mampir kerumah Yeri sebelum pulang kerumahnya, gadis itu masih belum mau keluar dari kamarnya. Ia pun sudah mendengar peristiwa pemukulan Sungmin tadi.

Aku mengetuk pintu kamarnya “Masuklah Henry” kata Yeri, aku terkejut namun aku langsung membuka pintu dan menemukan Yeri tengah memeluk kakinya diatas ranjangnya. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya. “Kenapa kau memukulnya?” tanya Yeri langsung, aku diam dan hanya memandangnya, matanya bengkak, ada bekas kehitaman dibawah matanya.

“Tak pantas bagimu menangisi Sungmin” kataku, dia menoleh kearahku. Menatapku dengan tatapan heran “Kau tanya alasanku mengapa memukulnya? Aku melihatnya bersama seorang perempuan bayaran di sebuah club malam, aku marah, aku merasakan bagaimana menjadi dirimu kalau kau yang melihatnya” jelasku. Dia masih menatapku tak percaya, perlahan kulihat airmatanya mengalir dipipinya.

Ia menggeleng, mencoba tak memercayai perkataanku. Aku tersenyum mengejek “Kau berpikir kalau aku berbohong? Untuk apa? Aku juga benci harus berkata seperti ini padamu namun aku berpikir kau harus tau kelakuan Sungmin sekarang tidak sama seperti dulu Yeri” jelasku lagi. Tangis Yeri pecah. Mengaung diudara malam yang dingin, aku hanya bisa diam tak ada alasan bagiku kenapa aku harus memeluknya.

Author POV End

**

Sungmin POV

2 tahun kemudian.

Aku memimpikan Yeri lagi. Seminggu terakhir ini aku memimpikan mantan kekasih yang sudah lama tak kudengar kabarnya. Karierku sedang hancur, semua lembaga memutuskan kontrak denganku karena sikapku yang tidak bisa professional dan menyepelekan. Aku menatap slide show foto Yeri di laptopku. Menyesal telah mencampakkannya dulu.

2 hari yang lalu, aku mencoba mendatangi rumahnya namun menurut tetangga mereka sudah pindah setahun yang lalu. Aku mendatangi tempat yang biasa Yeri kunjungi namun tak pernah aku temui dirinya. Sebenarnya ada satu jalan untuk mengetahui dimana Yeri, menghubungi Henry. Namun aku ragu Henry akan memberi tahuku.

Kudatangi kampus Henry, menunggu hampir 2 jam didepan gerbang kampusnya. Saat melihat dirinya keluar aku menghampirinya, wajah Henry seketika berubah. Ia menatapku marah “Untuk apa kau kesini?” tanyanya sinis, aku mencoba tersenyum padanya “Aku mencari Yeri”.

Dia menatapku makin sinis “Untuk apa? Bukankah kau sudah mencampakkannya? Kau pikir Yeri mau bertemu denganmu setelah perlakuanmu satu setengah tahun yang lalu?” tanya Henry sinis. Aku diam, tak menjawab apapun yang dilontarkan olehnya. Aku mengenang kejadian satu setengah tahun lalu.

 

Yeri masih menangis dihadapan Sungmin, berharap kekasihnya ini akan menarik semua keputusannya untuk pergi meninggalkan Yeri selamanya. Namun keputusan Sungmin sudah bulat, ia mulai jenuh pada Yeri yang menurutnya tak secantik wanita-wanita yang digosipkan dekat dengan dirinya.

            “Sungmin-aah aku masih mencintaimu” kata Yeri lirih, Sungmin mencibir “Kau masih mencintaiku? Namun aku telah mencintai wanita lain yang jauh lebih cantik dari dirimu” jawab Sungmin ketus. Yeri menghampiri kekasihnya, menatap kedalam mata bulat Sungmin dengan tatapan memohon. Sungmin mendekatkan badannya ke Yeri, membisikkan sesuatu yang menyayat hatinya “Aku bosan dengan kepolosanmu” kemudian ia berjalan keluar kamar Yeri, meninggal gadis yang selama ini mendukungnya menangis tersedu.

 

Henry masih menyangsikan kehadiranku padahal dia tau kalau aku menantikan jawabannya atas keberadaan Yeri. Sungguh aku menyesal telah meninggalkannya untuk perempuan yang ternyata hanya mengejar popularitas dan hartaku.

“Jadi? Dimana Yeri?” tanyaku tak sabar saat aku tau dia telah selesai mengerjakan tugasnya. Henry menatapku, masih sinis “Kau pikir saja sendiri” jawabnya mendesis lalu berlalu dihadapanku. Aku hanya bisa menatap punggung Henry perlahan menghilang.

**

Seminggu lebih aku memaksa Henry menunjukkanku keberadaan Yeri sampai akhirnya hari ini ia berjanji akan mengantarkanku ke tempat Yeri. Aku masih menunggu lelaki berpipi tembam layaknya mochi itu di depan kampusnya.

Saat melihatnya aku langsung menghampirinya “Kemana kita akan pergi?” tanyaku tak sabar. Dia tak menjawab, hanya melirikku sekilas dan masuk kedalam mobil. Aku masih berpikir, apakah Henry benar-benar akan mengantarku bertemu dengan Yeri atau tidak.

Kulihat ia membuka kaca mobil “Kau mau terus melamun seperti itu dan membiarkan Yeri mati beku menunggumu atau masuk kedalam mobil dan segera bertemu dengannya?” tanya Henry, mendengar itu aku langsung buru-buru masuk kedalam mobil dan melaju sesuai petunjuk yang diberikan Henry.

Aku menatap bingung tempat yang sekarang berada dihadapanku, kupandangi Henry “Untuk apa ke pemakaman?” tanyaku, lagi-lagi dia hanya melirikku dan tak menjawab. Ia berjalan masuk melewati makam-makam yang lain. Aku hanya bisa mengikutinya walaupun di otakku banyak pertanyaan yang seharusnya Henry jawab.

Saat ia berhenti disalah satu makam, aku memandangi makam itu, membaca namanya lalu terduduk lemas. Nama Yeri beserta fotonya terpampang disana, semua pertanyaan yang ada dibenakku terjawab sudah. Airmataku jatuh, tak mampu lagi aku mengatakan apapun “Inilah tempatnya sekarang” kata Henry tiba-tiba ditengah kesunyian dan tangisanku, aku menatapnya “Kenapa kau tak pernah memberitahuku?” tanyaku mencari keadilan.

Henry tersenyum sinis “Untuk apa? Aku memberitahumu saat itupun kau tidak akan memperdulikannya, aku yakin” jawab Henry. Aku palingkan pandanganku ke batu nisan, Yeri meninggal 6 bulan yang lalu namun tak ada seorangpun yang memberitahuku. Sekejam itukah diriku untuk Yeri?.

“Tak beranikah kau bertanya kenapa ia meninggal?” tanya Henry lagi.

Aku mendongak, menatap wajah dingin Henry yang menatap lurus ke nisan Yeri “Dia menabrakkan dirinya. Frustasi melihat semua kelakuanmu, sudah ku cegah namun pada hari itu ia berhasil kabur dengan mobilku, berjalan sendiri dengan kecepatan tinggi dan menabrakkan dirinya ke pembatas jalan. Ia meninggal ditempat” jelas Henry.

Airmataku makin deras mendengar ceritanya. Penyesalan perlahan masuk kedalam hatiku, kupandangi foto Yeri yag tersenyum. Tak akan lagi aku melihat senyum itu, senyum yang selalu untukku.

Henry menepuk pundakku “Tak ada lagi yang harus kau sesali Sungmin-aah, dia pergi karenamu jadi tidak sepantasnya kau menangisinya seperti ini” katanya.

Iklan

5 pemikiran pada “Memories

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s