Can’t Stop Thinking About You

Judul : Can’t Stop Thinking About You

Author : AltRiseSilver

Cast : Lee Gikwang, Cho Kyuhyun, Choi SooKi

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-13

“LEE GIKWANG!!!! Kembali kau kesini!! Sekarang!!” Teriakku pada Lee Gikwang yang sedang berlari menjauhiku. Ini hari pertama kami masuk tahun ajaran baru, Lee Gikwang adalah sahabatku sejak kecil, Lee Gikwang yang orang Korea asli berteman denganku yang seorang blasteran Korea-Indonesia. kami terlalu sering bersama sehingga semua orang mengira kami memiliki hubungan khusus. Aku sama sekali tidak mau dengannya, terlalu sering bersamanya malah membuatku tidak ingin berpacaran dengannya.

Aku masih berlari mengejarnya yang sudah berada di depan gerbang sekolah kami, dia tertawa melihatku mengejarnya dengan susah payah “Hey! Kau kan tau aku benci cacing, kenapa kau melemparkannya padaku?” sungutku saat aku sampai didepannya dengan terengah-engah, dia masih tertawa geli “mianhe cha, mianhe hahaha coba kau bayangkan bagaimana wajahmu tadi” kata Gikwang sambil terus tertawa.

Aku yang masih kesal berjalan masuk ke dalam sekolah duluan meninggalkan Gikwang disana, biar saja dia dianggap orang gila aku tidak peduli.

**

“Annyeonghaseyo, Cho Kyuhyun imnida” katanya, aku dan Gikwang saling bertatap muka “anak baru itu gayanya sok sekali” kata Gikwang “kenapa? Kau takut tersaingi?” tanyaku, Gikwang mendelik “untuk apa, aku ini sudah jadi yang nomor 1” jawabnya percaya diri, aku Cuma bisa menatapnya ilfeel.

“Baiklah, silahkan duduk dibangku yang kosong sebelah sana” kata Guru Sang menunjuk bangku paling belakang “aniyo guru, aku mau duduk di tempat itu” katanya sambil menunjuk tempat dudukku, aku dan Gikwang terkejut “baiklah Soo Ki, kamu silahkan pindah” katanya, aku berdiri dan membereskan barang-barangku “aniyo, bukan perempuan yang pindah, justru aku ingin duduk dengannya”.

Aku menghentikan aktifitasku dan memandang Gikwang yang telah memandangiku “baiklah, Gikwang kau pindah ya” kata Guru Sang, Gikwang sepertinya ingin menolak tapi Kyuhyun telah berdiri disamping mejanya. Akhirnya dia membereskan peralatannya dan pindah meja dengan wajah tidak senang. Kyuhyun duduk disampingku dan mulai berkonsentrasi dengan pelajaran.

Aku menoleh ke belakang dan melihat Gikwang yang memandang sinis Kyuhyun, aku tidak tau masalah apa yang terjadi sebelumnya kalau aku duduk dengan oranglain dia tidak pernah semarah ini.  Kemudian dia memandangku lalu bibirnya bergerak “perhatikanlah papan tulis” aku langsung memalingkan wajahku.

**

“Bagaimana rasanya duduk dengan anak baru itu?” Tanya Gikwang saat kami berada di kantin, aku mengangkat bahu, aku tidak merasakan apa-apa saat duduk dengannya. “Kau senang duduk dengannya? Lebih senang duduk denganku atau dengannya?” Tanya Gikwang lagi “kau ini kenapa? Kau cemburu?” tanyaku memojokkannya, pertanyaan yang dia lontarkan tidak masuk akal.

“Buat apa aku cemburu, kau kan bukan kekasihku” jawabnya, “kalau begitu kau tidak perlu menanyakan hal yang bodoh sepeti itu, dengan siapa aku duduk itu tidak akan berarti apa-apa untukku” kataku, dia hanya menatapku lalu memakan kembali makanannya. Saat sedang asik makan siang, tiba-tiba saja ada yang duduk disamping tanpa permisi. Aku menoleh. Kyuhyun. Gikwang menatapnya tajam “aku ke kelas dulu Cha” katanya seraya berlalu didepan kami.

Aku masih menatap Kyuhyun yang makan dengan santainya, dia ini aneh. Aku melanjutkan makanku sampai dia berkata “Kyuhyun imnida”.

“Aku sudah tau, Soo Ki imnida” kataku “aku juga sudah tau” katanya santai “lalu kenapa kau mengenalkan dirimu lagi padaku?” tanyaku, dia menoleh “iseng saja” jawabnya. Ah ternyata dia tidak kalah menyebalkan dari Gikwang, kalau disatukan mereka pantas di jadikan duo lawak di Korea ini. “Keturunan Indonesia kan?” tanyanya mendadak, aku mengangguk “memang begitu jelas ya?” tanyaku.

Kyuhyun mengangkat bahu, meminum minumannya lalu pergi meninggalkanku sendiri. Aku kesal dengan orang sepertinya, dia pikir dia hebat apa, cih!.

**

“Aku benci Kyuhyun” kataku saat berjalan pulang dengan Gikwang, dia mendelik, menatapku tidak percaya “bukannya kau menyukainya seperti semua perempuan di sekolah yang banyak memuji ketampanannya?” Tanya lelaki yang berjalan disampingku dengan gagahnya. Aku terdiam, memikirkan apa si Gikwang ini jelas-jelas aku bilang aku membenci makhluk itu.

“Aku tau kenapa kau bersikap sinis seperti ini padanya” kataku memancingnya “memangnya kenapa?” tanyanya. “Kau iri kan karena dia lebih terkenal daripada dirimu” tebakku sambil menggamit tangannya, dia menjitak kepalaku “memang kau pikir aku memikirkan ketenaran? Tega sekali kau ini” jawabnya. Aku tertawa lalu kemudian Gikwang pun ikut tertawa.

**

Seminggu berlalu, aku betah sebenarnya duduk dengan Kyuhyun, dia banyak membantuku mengerjakan tugas matematikaku. Aku baru sadar ternyata dia jenius, aku menyesal mengatakan kalau aku membencinya. Kami sering belajar bersama, tidak peduli saat istirahat atau pulang sekolah.

Namun hari ini aku memutuskan untuk tidak belajar bersama, aku ingin beristirahat. “Kau tidak belajar bersama evil itu?” Tanya Gikwang di tengah jalan, “aniyo, wae?” tanyaku. Gikwang diam saja, dia berjalan sambil menunduk. Dia terlihat sedih “hey! Kau kenapa? Tidak biasanya lemas seperti ini” tanyaku, dia memandangku sambil tersenyum “kalau kau menyukainya, bilanglah padaku” katanya kemudian dia pergi.

Aku mengejarnya dan menanyakan maksudnya namun hingga kami sampai dirumah masing-masing aku tidak mendapatkan jawabannya. Bahkan aku sampai meneleponnya, dia tidak mau mengatakannya. Aku kesal lalu kuputuskan untuk mendiamkannya selama beberapa hari.

Aku berusaha berkonsentrasi dengan buku matematikaku namun aku tidak bisa melakukannya, akhirnya kuputuskan untuk menelepon Kyuhyun.

“Nubuseyo” sapanya di seberang sana “ahh Kyuhyun, ini aku Soo Ki” kataku.

“Ya aku sudah tau, wae?” tanyanya, aku bingung darimana dia tau padahal kan aku baru pertama kali meneleponnya. Lalu aku menjelaskan masalahku dengan angka-angka, dia menerangkan dengan sangat seksama hingga aku mengerti. Namun setelah aku mengerjakan semua soal itu aku dan dia tidak segera mengakhiri telepon kami, kami malah menghabiskan malam itu dengan mengobrol hingga larut malam.

Aku terlambat, gara-gara perbincangan semalam aku telat bangun dan alhasil pagi ini aku harus berlari menuju sekolah. Tiba-tiba ada suara klakson motor dari belakangku, aku menoleh dan tebak siapa yang aku lihat. Cho Kyuhyun. “Naiklah, kita pergi bersama” ajaknya, aku tanpa menolak langsung naik motornya. “Kau telat bangun juga?” tanyaku saat sudah berada di motornya, dia mengangguk.

Tak sampai 10 menit kami sampai di sekolah tepat sebelum 10 menit bel berbunyi. Kami menuju kelas bersama, aku sangat berterima kasih padanya kalau tidak hari ini aku pasti sudah dihukum oleh Guru Sang yang sedang jaga piket. Kami masuk kelas dan langsung duduk di bangku kami. Gikwang yang tau aku baru datang menghampiriku “kenapa ku telat?” tanyanya “kesiangan” jawabku singkat mengingat masalah kemarin.

“Kesiangan bersama dia?” Tanya Gikwang sambil menunjuk Kyuhyun, aku mengangguk “kalau kesiangan bersamaku kenapa?” Tanya Kyuhyun sambil menatap Gikwang. Kedua pria tersebut saling berpandangan, aku benci situasi seperti ini, aku memutuskan untuk keluar kelas. Gikwang menyusulku “kembali ke kelas, bel sudah berbunyi” katanya, aku menghempaskan tangannya “tidak perlu, kau masuk saja duluan, aku tidak ikut pelajaran pertama”.

**

“Aku tau kau disini”.

Aku mengenal suara itu. Kyuhyun. Dia selalu datang saat yang tepat. Dia duduk disampingku tanpa mengatakan apapun lagi. Sekarang kami berada di taman belakang sekolah yang sepi “Kau ini siapa?” tanyaku, dia menoleh “Kyuhyun” jawabnya polos.

“Aku tau tapi aku tidak menanyakan namamu, aku menanyakan siapa kau sampai kau tau semua tentangku?” jelasku, Kyuhyun memandang langit “aku juga tidak tau mengapa aku tau tentangmu, aku Cuma menebak saja” jawabnya. Aku mendelik, manusia ini aneh sekali. “Sehabis istirahat kita kembali ke kelas ya” katanya, aku Cuma mengangguk pasrah.

**

“Kau menyukai Kyuhyun ya?” Tanya Gikwang diujung telpon “kau ini, selalu menanyakan hal itu padaku, aku belum menyukainya” kataku yakin “belum? Berarti nanti pasti kau menyukainya kan?” Tanya Gikwang lebih sengit “aku kan tidak tau bagaimana perasaanku nanti”.

“Kalau begitu kau jangan dekat dengannya lagi, mulai besok aku akan menyuruhnya untuk tidak duduk bersamamu” kata Gikwang emosi “wae? Kau pikir kau siapa menyuruh dan menlarangku?” tanyaku lebih emosi “Hey! Kau bilang kau tidak mempermasalahkan dengan siapa kau duduk, kalau begitu kenapa kau keberatan kalau aku menyuruh Kyuhyun tukar tempat denganku?”.

Aku tidak menjawab, aku menutup telponnya dan memutuskan untuk tidur. Gikwang akhir-akhir ini menyebalkan sekali.

Teleponku berdering lagi, tanpa menatap layarnya aku langsung mengangkatnya “jangan telepon aku dulu! Aku sedang marah padamu!” teriakku, “kau marah padaku?” tanyanya. Suaranya berbeda, aku melihat layarnya ‘Kyuhyun’. Aku langsung salah tingkah.

“Mianhe Kyu, aku pikir Gikwang”.

“Gwechanayo, kalau boleh tau kenapa kau marah padanya?” Tanya Kyuhyun “aniyo, tidak apa-apa, kenapa kau menelponku? Ada masalah apa?”. Aku coba mengalihkan pembicaraan “Aniyo, aku Cuma merindukanmu”.

DEG!

Jantungku mendadak berdetak lebih cepat, entah kenapa aku merasa senang saat dia mengatakan dia merindukanku. Aku terdiam sesaat “Hey, apa kau masih disana? Jawablah telponku” katanya “iya, aku masih disini, tadi kau mengatakan apa?” tanyaku.

“Aku merindukanmu” Jawabnya “ohya? Bagaimana bisa?”.

“Tentu saja bisa, aku kan seorang laki-laki dank au ini seorang perempuan lagipula hampir setiap hari kan kita bersama, wajar saja kalau aku punya perasaan khusus untukmu” jelasnya. Aku mengangguk “Jinjja?” tanyaku tak yakin, terdengar dia menghela nafas. Jujur aku tidak tau harus mengatakan apa sekarang ini, antara senang atau tidak. Sebenarnya aku juga kadang merasa merindukannya, apa iya aku merasakan hal yang ia rasakan “kau tau, setiap kali bersamamu entah kenapa aku malu menatap wajahmu” lanjutnya, aku masih terdiam.

“Tidakkah kau merasakan hal yang sama?” tanyanya, aku tersentak. Oh tidak! aku harus mengatakan apa, apa aku harus mengatakan apa yang kurasakan “hmm, bagaimana ya?” aku masih menggantung kalimatku.

“Kalau kau tidak merasakan hal yang sama, aku akan membuatmu seperti aku” katanya yakin “jinjja? Bagaimana bisa?” tanyaku tidak percaya. Dia diam, aku tidak tau diujung sana dia sedang melakukan apa, aku yakin sekarang dia tersenyum seperti evil yang menakutkan. “Wae? Kau takut aku melakukan hal yang macam-macam padamu? Hahaha aniyo, aku bukan laki-laki bejat seperti yang kau pikirkan”. Aku mendelik, apa yang dia bicarakan? Siapa juga yang memikirkan hal bodoh seperti itu.

Setelah berbicara cukup panjang dengannya, aku memutuskan untuk tidur namun sampai detik ini aku tidak bisa menutup mataku. Aku memandang jam dinding, pukul 2 pagi. Aku mendesah, apa yang aku pikirkan? Kenapa nama Kyuhyun menjelajah pikiranku. Oetthoege, bagaimana mungkin aku menjelaskan ini, tidak mungkin kan aku mencintainya?.

**

“Annyeong, sedang apa kau disini?” Tanya Kyuhyun saat aku sedang makan di kantin “annyeong” jawabku singkat, sambil terus melahap rotiku, dia melihatku sekilas “kau kenapa?” tanyanya, aku menggeleng tanpa melihat ke arahnya sambil terus makan. Dia melihat arah lain lalu mendesah. “Sarangheyo” katanya samar-samar, aku menoleh “mwo? Kau berkata apa barusan?” tanyaku.

Dia melihatku “sarangheyo” ulangnya masih sedikit berbisik “mwo? Coba katakan lebih keras, aku tidak mendengarmu” kataku lagi “SARANGHEYO!!” Teriaknya hingga semua mata di kantin menatap kami, aku diam. Memandangnya tanpa berkutik dan member jawaban “kau sudah mendengarnya kan? Sekarang jawablah”. Aku tidak mengerti apa maksudnya, apa yang harus aku jawab, dia kan Cuma mengatakan aku mencintaimu. Aku menatapnya keheranan lalu dengan cueknya aku kembali makan.

“Aishh” desisnya melihat kelakuanku “Choi Soo Ki, Sarangheyo! Be my girl, please” ucapnya lagi agak keras dan kami kembali menjadi tontonan banyak orang, aku melihat kearahnya “kau gila ya, mengatakan hal seperti itu didepan orang banyak” kataku agak kesal, jujur saja hatiku sekarang berdetak lebih cepat makanya aku pura-pura marah agar rasa Maluku tertutupi.

“Sekarang jawablah, kau sudah tau kan pertanyaanku?” katanya penasaran. Aku menatap matanya mencoba mencari ketulusan hatinya “aku tidak mau menjawabnya disini” kataku cuek “wae? Katakanlah disini biar semua orang tau” jawabnya “Aniyo, aku tidak mau”. Dia mendesis lagi “kau ini menyebalkan ya?”.

Kami diam beberapa saat, semua mata di kantin masih memperhatikan kami “jangan perhatikan kami seperti itu, urus saja urusan kalian sendiri!” teriakku yang merasa risih di perhatikan oranglain, sekilas aku melihat Kyuhyun tersenyum walaupun aku tau dia gelisah menunggu jawabanku “kau mencintaiku? Jinjja?” tanyaku padanya, Kyuhyun mengangguk pasti.

“Wae? Mengapa bisa?” Tanyaku.

Dia mengangkat bahu “aku sendiri tidak mengerti, sejak pertama kali masuk kelas aku sudah memperhatikanmu dan entah kenapa aku ingin sekali dekat denganmu” jawabnya. Aku mengangguk sambil terus makan lalu aku menoleh kearahnya yang masih memandangku “aahh jangan melihatku seperti itu, kau kan tau aku orangnya gampang sekali salah tingkah” kataku polos, dia mengangguk tapi tidak memalingkan wajahnya.

“Bagaimana aku harus menjawab kalau kau memandangiku terus” kataku lagi “jadi jawabanmu apa?” Tanya Kyuhyun, aku menyuruhnya mendekatkan telinganya agar aku bisa membisikkan sesuatu di telinganya “na do sarangheyo, I love you chagiya” bisikku, lalu aku menjauh dan memandang sisi lain agar Kyuhyun tidak melihat wajahku yang memerah, aku tidak tau apa yang sedang ia lakukan sekarang apa hanya tersenyum atau jingkrak-jingkrak kegirangan. Entahlah yang pasti sekarang aku ingin merasakan rasanya jatuh cinta.

**

Aku sekarang berada di kamar Gikwang, tadi sore dia mengajakku untuk belajar bersama namun suasana daritadi sangat canggung sampai akhirnya Gikwang membuka suara “aku tau kalau akhirnya akan seperti ini” katanya tiba-tiba “akhirnya apa?” tanyaku tak mengerti, dia diam lagi, dia hanya memandang buku tulisnya yang masih kosong.

“Ternyata perasaanmu cepat berubah ya, aku tidak menyangka baru semalam kau mengatakan kau belum menyukainya tapi sekarang hubunganmu dengannya telah menjadi special” katanya lagi, akhirnya aku mengerti apa yang dia katakan “aku juga tidak mengerti kenapa, dia memang berbeda dari yang lain” kataku.

“Berbeda? Apanya yang berbeda? Apa bedanya denganku? Dia lebih baik dariku?” tanyanya bertubi-tubi, aku memandangnya yang kelihatannya sangat marah “kau ini kenapa? Jelas kau itu lebih baik dibanding siapapun, aku sangat mengenalmu Gikwang” kataku. Gikwang memalingkan wajahnya “kalau aku lebih baik dari dia kenapa kau tidak memilihku?” tanyanya nanar.

Aku mendekat “apa maksudmu?”.

Dia menatapku, memandang mataku, mencoba mencari sebuah jawaban “kau bilang kau tau bagaimana aku kan? Kenapa kau tidak memilih aku dan malah bersama Kyuhyun? Orang yang baru kau kenal tidak lebih Dari sebulan? Kau tau bagaimana perasaanku padamu? Belasan tahun aku menahan perasaan ini padamu, kenapa kau tidak mengerti juga Echa!!” teriaknya. Aku masih memandangnya, dia menunduk, tak lagi memandangku. Aku mendengar isak tangisnya. Aku masih diam tak mengerti maksud pembicaraannya.

“Aku mencintaimu Soo Ki, sangat mencintaimu bahkan sebelum kau mengenal Kyuhyun aku sudah mencintaimu” katanya, aku tersentak mendengar pengakuannya “kau… mencintaiku?” tanyaku tak percaya, dia mengangguk “tolong katakan kalau kau juga mencintaiku Soo Ki, katakan kau lebih mencintaiku daripada Kyuhyun, katakana Soo Ki!” teriaknya lagi, aku mengangkat wajahnya “aku menyayangimu Gikwang, aku menyayangimu tapi tidak mencintaimu”.

Dia memalingkan wajahnya “kalau begitu, keluarlah Cha, aku ingin sendirian” pintanya, aku masih belum mau beranjak, aku masih menatapnya yang menangis “keluarnya” perintahnya lagi “mianhe.. mianhe Gikwang” sesalku, dia menggeleng “keluar” pintanya, aku beranjak lalu keluar dari kamarnya.

**

Hampir 2 minggu aku dan Gikwang tidak saling menyapa, dia menjadi dingin dan tidak bersahabat, aku seperti tidak mengenal Gikwang sekarang. Hubunganku dengan Kyuhyun baik-baik saja, aku tau banyak yang tidak suka dengan hubungan kami dan mencoba menghancurkannya namun Kyuhyun selalu berkata padaku untuk selalu mempercayainya. Yah selama dia tidak melakukan hal yang membuatku sakit aku tidak akan marah padanya.

Saat pelajaran usai, aku berkemas di lokerku namun aku menemukan sebuah amplop putih, tertulis namaku di depannya lalu aku membukanya, betapa terkejutnya aku saat melihat isinya. Kyuhyun dan Victoria… sedang berciuman. Badanku langsung lemas, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku menutup lokerku dan berjalan gontai keluar sekolah.

Dari jauh aku mendengar suara Kyuhyun memanggilku namun aku pura-pura tidak mendengarnya. Aku berjalan makin cepat dan mencoba menghindarinya, aku tidak ingin melihat mukanya itu. Namun kaki Kyuhyun lebih panjang sehingga dia bisa mengejarku “kau ini tidak mendengarku ya? Daritadi aku memanggilmu” katanya ngos-ngosan. Aku menatapnya “untuk apa mencariku?” tanyaku sinis.

Dia bengong melihat reaksiku “kau ini kenapa? Jelas saja aku ingin mengantarmu pulang” katanya lagi “tidak perlu, aku bisa pulang sendiri” kataku sambil berlalu di depannya, dia mencengkram tanganku “pulang bersamaku” paksanya, aku mencoba melepaskan cengkramannya. Sakit rasanya. Tanpa sadar airmataku mengalir “lepaskan Kyu, aku ingin sendiri” kataku. Kyuhyun heran menatapku yang menangis dan akhirnya dia melepaskanku.

Aku berlari menjauhi sekolah dengan tangisku yang pecah, aku mendengar suara Gikwang dari kejauhan tapi aku tidak mau kembali, aku tidak mau bertemu Kyuhyun.

**

*Gikwang POV*

Aku melihat Soo Ki dan Kyuhyun sedang bertengkar, Kyuhyun mencengkram lengan Soo Ki, aku melihatnya menangis. Saat Kyuhyun melepas tangan Soo Ki, aku menghampiri Kyuhyun.

“Apa yang telah kau lakukan padanya? Kenapa kau membuatnya menangis?” tanyaku kesal “mana aku tau, aku hanya ingin mengajaknya pulang tapi dia tidak mau” jawabnya sinis “kalau dia bilang tidak mau jangan kau paksa, kau ini pacarnya tapi tidak tau harus melakukan apa” kataku lebih sinis.

“Aku akan mengejarnya” kata Kyuhyun.

“Biar aku saja” jawabku. “Aku pacarnya”.

“Tapi, aku sahabatnya” kataku lagi.

**

Aku menangis di taman komplek rumahku. Dulu aku dan Gikwang senang bermain disini. Aku mendengar ada langkah kaki mendekat kearahku. Aku tau itu Gikwang, hanya dia yang tau dimana aku saat aku sedih. Dia duduk disampingku lalu merangkulku “jangan menangis lagi, jangan menangis untuk laki-laki yang menyakitimu seperti tadi” katanya.

Aku menggeleng “aku bukan menangis karena itu, aku menangis untuk hal lain” kataku terisak. Dia memandangku “apa itu?” tanyanya. Aku mengeluarkan amplop yang aku temukan di lokerku, dia mengambilnya lalu membukanya. Wajahnya berubah menjadi merah karena kesal “dia…” Gikwang menggantungkan kalimatnya lalu menatapku lagi “kau dengar Cha, aku tidak akan memaafkan perbuatannya ini padamu” katanya. Gikwang memelukku dan tangisku pecah di pelukannya.

**

Aku, Kyuhyun dan Gikwang masih terengah-engah. Gikwang yang masih emosi mencari Kyuhyun di rumahnya dan menyeretnya kesebuah gudang kosong. Dia menghajar Kyuhyun dengan brutal, Kyuhyun yang tidak tau masalahnya ikut tersulut emosinya dan memukul Gikwang. Mereka terlibat perkelahian hebat. Aku mencoba melerainya, hingga tanpa sengaja Gikwang juga memukulku.

Melihat hidungku yang berdarah akhirnya mereka menghentikan perkelahian itu. Wajah mereka babak belur. “Kenapa harus berkelahi sih! Kalian seperti anak kecil tau!” teriakku kesal karena hidungku juga menjadi korbannya “kau mau melihatku diam saja melihatmu menangisi laki-laki yang mempermainkan perasaanmu?” Tanya Gikwang. “Apa maksudmu? Aku mencintainya tulus!” elak Kyuhyun. Gikwang mencibir Kyuhyun.

“Aku saja tidak tau alasan mengapa kau memukulku seperti tadi, ayo cepat minta maaf” perintah Kyuhyun. Gikwang menggeleng “tidak mau, aku tidak salah memukulmu” katanya lagi. “Aish kalian ini!” kataku kesal, aku memalingkan wajah ke Kyuhyun “kau… menghinatiku, kau bilang aku harus percaya padamu, tapi kau sendiri yang membuatku tidak percaya padamu” kataku sambil menunjuk-nunjuknya.

Aku melempar amplop itu, lalu dia melihatnya, bukannya merasa bersalah dia malah tertawa “kenapa kau tertawa? Kau pikir lucu? Kau tau, kau telah menyakiti sahabatku” kata Gikwang. Dia menggeleng “kalian ini bodoh atau terlalu bodoh sih? Aku tidak menciumnya, kalau aku menciumnya wajahku tidak semiring ini” jelas Kyuhyun, Gikwang merampas fotonya/ dan memperhatikannya.

“Lalu apa yang kau lakukan dengan posisi seperti ini?” tanyanya “ada serangga di rambutnya, aku hanya ingin membuangnya” jelasnya lagi. Gikwang menyerahkan foto itu padaku. Aku memperhatikannya dengan seksama, aahh ternyata benar, mereka tidak berciuman. Aku dan Gikwang bertatapan. Kami merasa bersalah padanya. “Aku tidak akan marah padamu Cha” katanya padaku lalu dia menatap Gikwang “tapi kau harus minta maaf padaku!” bentaknya.

Gikwang dengan santainya mengajakku untuk pulang tanpa mengucapkan maaf, Kyuhyun kesal dengan sikap Gikwang namun dia hanya mencibir dari kejauhan. “Mianhe!” teriak Gikwang.

**

Aku memeluk Gikwang untuk terakhir kalinya, aku menangis dipelukannya sekarang. Dia akan melanjutkan sekolahnya ke London, meninggalkanku dengan si Evil Kyuhyun yang sedikit menyebalkan. “Kalau sedang liburan, kembalilah, kita bermain bersama lagi” bujukku manja, dia mengacak-acak rambutku “Ne, tunggu aku kembali ya” katanya sambil tersenyum.

Dia melihat Kyuhyun lalu menghampirinya “kau, kalau kau sampai menyakiti sahabatku seperti kejadian tempo hari, aku akan kembali kesini lalu menghajarmu hingga mati” ancamnya. Kyuhyun tertawa “aniyo, tidak akan” jawab Kyuhyun lalu mereka saling berpelukan. Tidak sanggup sih jauh dari Gikwang karena aku telah terbiasa bersamanya, namun aku harus melepaskannya sekarang.

Dia berjalan menjauhi kami lalu melambaikan tangannya, kemudian dia berteriak “CHOI SOO KI, SARANGHEYO!!” katanya lalu berlari sambil tertawa. Kyuhyun yang mendengar hal itu mencoba mengejarnya namun ia telah masuk ke dalam antrian check in. Aku hanya tertawa melihat Kyuhyun kesal pada Gikwang. Lalu dia kembali padaku “katakan padaku kau tidak mencintainya” katanya, aku tersenyum “aku hanya menyayanginya sebagai kakakku sendiri” kataku. Kyuhyun tersenyum lalu kami berjalan pulang meninggalkan airport.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s